Wanita
Kuat Dan Saleh
Lukas 1:6; 2 Kor 12;9-10
Alkitab
tidak banyak mengangkat tokoh pasangan suami-istri yang dikatakan sebagai
pasangan yang saleh dihadapan Tuhan. Di Perjanjian Lama kita mengenal pasangan
Abraham-Sara, Ishak-Ribka, dan Boas-Rut. Di
perjanjian Baru kita mengenal pasangan Zakharia-Elisabet, Yusuf-Maria,
dan Akwila-Priskila yang disebut sebagai pasangan yang hidup takut akan Tuhan.
Tabib
Lukas mencatat dengan jelas bahwa Elisabet, istri Imam Zakharia adalah wanita
yang saleh, “Keduanya adalah benar di
hadapan Tuhan dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan
tidak bercacat”. Elisabet hidup dalam ketetapan firman Tuhan meskipun
sampai masa tuanya ia tak kunjung melahirklan seorang ahli waris bagi suaminya.
Tidak banyak wanita yang memiliki kedewasaan imam seperti Elisabet, ia tetap
percaya penuh kekpada Tuhan dan menyingkirkan kekecewaan dari hidupnya,
kemudian memilih tetap hidup taat di tengah-tengah keadaan yang sulit sebagai
seorang wanita yang mandul.
Teman
saya yang berprofesi sebagai seorang penulis berketetapan untuk hidup saleh dan
taat kepada Tuhan. Beberapa kali penyakit yang cukup kronis menimpanya, hal ini
merupakan pergumulan tersendiri baginya yang ada;ah seorang hamba Tuhan. Ia
kerap menulis tentang kesembuhan yang Tuhan sediakan bagi anak-ankaNya, tetapi
ia sendiri mengalami sakit berat yang belum disembuhkan. Kadangkala muncul
kebimbangan di hatinya yang membuat dia bertanya, mengapa Tuhan tidak
menyembuhkannya seperti janji firmanNya. Di tengah-tengah pergumulan yang ingin
mengalami muzizat kesembuhan, Tuhan bericara kekpadanya lewat para pendoa
syafaat. Di masa sukar ini Tuhan sedang menguji iman dan kesetiaannya.
Sakit-penyakit yang dia alami itu diizinkan Tuhan sebagai sebuah batu ujian
bagi kemurnian imannya. Jika teman saya sudah teruji menurut standar Tuhan,
maka Dia akan memakai hidupnya secara maksimal. Janji itu tentu saja memberi
kekuatan bagi teman saya untuk tetap hidup saleh, meskipun keadaanya sangat
menderita.
Orang
yang saleh tidak hanya mau menerima berkat dan kelimpahan semata, tetapi jika
Tuhan mengizinkan mereka menderita maka mereka akan menerima itu sebagai kasih
karunia (2 Kor 12:9-10). Di dalam penderitaanlah kesalehan seseorang teruji
karena orang yang saleh dapat melihat kebaikan Tuhan di tengah-tengah keadaan
yang sangat buruk sekalipun. Hati Tuhan senang dan Dia tersenyum melihat
anak-ankaNya yang saleh seperti Elisabet.