Senin, 14 April 2014

Renungan


Wanita Kuat Dan Saleh
Lukas 1:6; 2 Kor 12;9-10

Alkitab tidak banyak mengangkat tokoh pasangan suami-istri yang dikatakan sebagai pasangan yang saleh dihadapan Tuhan. Di Perjanjian Lama kita mengenal pasangan Abraham-Sara, Ishak-Ribka, dan Boas-Rut. Di  perjanjian Baru kita mengenal pasangan Zakharia-Elisabet, Yusuf-Maria, dan Akwila-Priskila yang disebut sebagai pasangan yang hidup takut akan Tuhan.

Tabib Lukas mencatat dengan jelas bahwa Elisabet, istri Imam Zakharia adalah wanita yang saleh, “Keduanya adalah benar di hadapan Tuhan dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”. Elisabet hidup dalam ketetapan firman Tuhan meskipun sampai masa tuanya ia tak kunjung melahirklan seorang ahli waris bagi suaminya. Tidak banyak wanita yang memiliki kedewasaan imam seperti Elisabet, ia tetap percaya penuh kekpada Tuhan dan menyingkirkan kekecewaan dari hidupnya, kemudian memilih tetap hidup taat di tengah-tengah keadaan yang sulit sebagai seorang wanita yang mandul.

Teman saya yang berprofesi sebagai seorang penulis berketetapan untuk hidup saleh dan taat kepada Tuhan. Beberapa kali penyakit yang cukup kronis menimpanya, hal ini merupakan pergumulan tersendiri baginya yang ada;ah seorang hamba Tuhan. Ia kerap menulis tentang kesembuhan yang Tuhan sediakan bagi anak-ankaNya, tetapi ia sendiri mengalami sakit berat yang belum disembuhkan. Kadangkala muncul kebimbangan di hatinya yang membuat dia bertanya, mengapa Tuhan tidak menyembuhkannya seperti janji firmanNya. Di tengah-tengah pergumulan yang ingin mengalami muzizat kesembuhan, Tuhan bericara kekpadanya lewat para pendoa syafaat. Di masa sukar ini Tuhan sedang menguji iman dan kesetiaannya. Sakit-penyakit yang dia alami itu diizinkan Tuhan sebagai sebuah batu ujian bagi kemurnian imannya. Jika teman saya sudah teruji menurut standar Tuhan, maka Dia akan memakai hidupnya secara maksimal. Janji itu tentu saja memberi kekuatan bagi teman saya untuk tetap hidup saleh, meskipun keadaanya sangat menderita.

Orang yang saleh tidak hanya mau menerima berkat dan kelimpahan semata, tetapi jika Tuhan mengizinkan mereka menderita maka mereka akan menerima itu sebagai kasih karunia (2 Kor 12:9-10). Di dalam penderitaanlah kesalehan seseorang teruji karena orang yang saleh dapat melihat kebaikan Tuhan di tengah-tengah keadaan yang sangat buruk sekalipun. Hati Tuhan senang dan Dia tersenyum melihat anak-ankaNya yang saleh seperti Elisabet.

Orang yang saleh memutuskan untuk memikirkan apa yang Tuhan pikirkan, bukan apa yang manusia pikirkan tentang mereka. Karena itu orang saleh memiliki keberanian untuk berkata seperti Ayub, “Karena ia tahu jalan hidupku; seandainya ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas”. (Ayb 23:10)

Renungan


Istri Imam, Keturunan Harun
Lukas 1:5; Timotius 3:8-13

Bagi orang Israel, para imam yang disebut kohanim (jamak) atau kohen/cohen (tunggal), menyandang jabatan yang sifatnya turun-temurun melalui garis keturunan ayah. Keluarga-keluarga kohen ini berasal dari suku Lewi, dan secara  khusus lagi adalah keturunan Imam Besar harun. Pada masa Bait Suci pertama yang didirikan Salomo, kohen bertanggung jawab atas persembahan sehari-hari dan korban khusus pada hari-hari raya Yahudi. Namn, sejak masa Bait Suci kedua yang dnovasi oleh Heodes Agung, paa rabilah yang mnjadi tokoh penting dikalangan pemimpin orang Yahudi. Sekarang peranan kohen masih ada meskipun jauh berkurang pentingnya dibandingkan dengan masa Alkitab. Kohen hanya memberkati jemaat pada hari sabat, hari-hari raya Yahudi, dan setiap hari pada ibadah doa pagi.

Hukum Musa menuntut seorang kohen hanya menikahi seorang wanita yang bereputasi baik. Zakharia yang adalah seorang kohen memilih Elisabet, putrid seorang imam menjadi pendamping hidupnya. Kualitas pribadi dan rohani yang dimiliki oleh Elisabet baik, dan Alkitab yang adalah firman Tuhan menyatakan dia adalah wanita yang saleh. Elisabet bukan hanya sekedar wanita yang bereputasi baik, tetapi ia juga berasal dari garis keturunan harun. Di sisi yang lain, nama Elisabet memuliki arti yang sama dengan nama istri Harun, Eliseba, yang artinya “God is her oath” atau “Tuhan adalah nazarnya” (kel 6:22). Zakharia memilih istri yang tepat baginya, Elisabet, wanita yang mengikat hatinya kepada Tuhan.

Kesalehan seorang wanita merupaka dasar penting untuk membangun hubungan dalam pernikahan yang baik, terutama jika suaminya adalah seorang imam atau pelayan Tuhan. Kualitas perjalanan seorang wanita dengan Tuhan menentukan kemampuannya untuk berjalan dalam keharmonisan dengan pasangan hidupnya. Elisabet merupakan pasangan yang sepadan bagi Zakharia yang adalah seorang imam, pelayan di Bait Suci.
Dewasa  ini, ada perubahan yang besar di dalam paradigma penatalayanan gereja, di mana pemberdayaan kaum awam sebagai pelayan di dalam gereja semakin terbuka. Hal ini tidak bertentangan dengan firman Tuhan, aslakan orang yang dipilih menjadi pelayan Tuhan cakap dan memenuhi kriteria seperti yang disebutkan Paulus kepada Titus, gembala jemaat dkreta (Tit 1:6-9). Jika anda adalah seorang pria yang berstatus sebagai pelayan Tuhan, berupayalah memenuhi standar firman Tuhan. Jika anda adalah seorang wanita yang berperan sebagai pelayan atau pendamping suami dalam pelayanan. Jadilah wanita saleh seperti Elisabet. Jagalah perilaku, tutr kata, sikap, dan cara berpakaian kita supaya kita tidak menjadi batu sandungan. Wanita yang saleh akan menjadi surat pujian bagi suaminya. Bukankah kita akan berbahagia jika banyak orang mengatakan suami kita adalah pria yang beruntung karena memiliki istri yang saleh?

Organisasi


Lebah dan Organisasi

Dr. N. Ganapaty merupakan seorang profesor di Tamil Tandu Agricultural University. Percaya tak percaya. Beliau mengemukakan bahwa untuk menjadi sukses, hanya dengan mengadopsi etika bekerja lebah. Seorang pekerja, bahkan organisasi, bisa mendapatkan kesuksesan besar. Berikut merupakan pelajaran-pelajaran yang bisa di petik dari cara bekerja lebah.
     1.    Pembagian tugas
Lebah memiliki lingkungan sosial yang terstruktur, masing-masing lebah memiliki peran dan job desk tersendiri. Secara genetik mereka di program untuk tidak menyalahi wilayah yang bukan merupakan wewenangnya. Jika seorang pekerja atau organisator mampu mengetahui perannya dalam organisasi dengan baik dan menguasai peran tersebut, maka kinerjanya akan meningkat dan perlahan mengantarkannya pada kesuksesan. Begitu juga organisasi atau pemimpin organisasi mampu menerapkan hal ini, maka tak akan ada konflik peran, meski memiliki peran yang berbeda. Kawanan lebah hanya memiliki satu tujuan yang sama. Begitu juga dengan organisasi. Seorang pemimpin harus mampu menjabarkan tujuan profesional secara real dan eksplisit, sehingga para organisator atau pengurus dengan berbagai macam peran bersama-sama melangkah untuk satu tujuan pasti di masa yang akan datang.
      2.    Semangat bekarja sama
Kerja sama bagi lebah lebih penting dibandingkan dengan kompetisi. Tak seperti yang ada di saat ini, dalam sebuah organisasi sarat akan aroma kompetisi yang sangat kental, terutama pada organisasi-organisasi besar dan aktif. Oleh karena itu seorang pemimpin dan para organisator harus dapat menyatukan pengetahuan dan pengalaman, serta saling bekerja sama akan membuat pekerjaan menjadi efisien dan efektif. Tak ada konflik yang terjadi. Masing-masing organisator dapat saling menghormati kontribusi dan perannya.
      3.    Setia
Loyalitas merupakan kunci kelangsungan hidup jangka panjang. Lebah setia terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Jika mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil madu dari satu bunga, maka mereka akan melakukannya terus-menerus. Organisator yang baik juga harus setia dengan peran dan job desk dalam organisasinya. Tekun dan  tak mudah berpaling, serta harus setia terhadap aturannya.
      4.    Kewajiban dulu, baru hak
Bagi lebah, kepentingan kawanannya lebih dahulu yang harus di utamakan, baru kemudian kepenntingan pribadi. Mereka bekerja mengambil madu untuk kepentingan bersama. Begitu juga dengan lebah yang bertugas menjaga sarang, itu semua semata-mata dilakukan agar sarang dan seluruh kawanannya tidak akan terancam rusak dan mati. Oleh karena itu, para organisator harus mampu mendahulukan kewajibannya dibandingkan haknya. Jika dalam melaksanakan pekerjaannya dalam sebuah organisasi, maka harus ada prioritas untuk mendahulukan kewajibannya. Karena, bila seorang organisator hanya mementingkan ego pribadi, bukan tidak mungkin organisasi tersebut akan mati dan hilang dari peredaran.

Inspiratif Story

KESEIMBANGAN HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi meras hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari sang suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama bahkan saat merenung bagi diri sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya disana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

“hai anak muda. Tunggulah didalam. Masih ada beberapa hal yang harus bapak selesaikan,” seru tuan rumah. Bukannya masuk, sipemuda menghampiri dan bertanya, “maaf pak, bagaimana bapak bias merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat diperusahaan kita?”

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh keliling rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembali kemari”.

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikuti perintah itu. Tak lama kenmudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak  bertanya, “anak muda . kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”

Sambil tersipu malu, sipemuda menjawab, “maaf pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah,  dengan nada gembira dan kagum dia berkata, “rumah bapak sungguh indah sekali, asri dan nyaman.” Tanpa diminta , dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Sibapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu didalam mangkok yang hamper habis. Menyadari lirikan sibapak kearah mangkoknya, sipemuda berkata, “maaf pak, keasyikan menikmati indahnya rumah bapak, susunya tumpah semua”.

“hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu dimangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika terlihat indah dimatamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita. Bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita. Dan akan harmonis”.

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, “terima kasih, pak. Tidak diduga say telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati.

*******************

Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.

saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh pengorbanan, perjuangan dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti, untuk menjaga supaya tetap bias hidup seimbang dan harmonis, ini bukan urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahu atau 10 tahun, tetapi kita butuh selam hidup. Selamat berjuang.

My First Puisi


SAHABATKU

Wahai sahabatku
Ku kenangeng kau jauh disana
Dahulu kita selalu bersama
Suka dan duka tetap kita jalani
Semula bimbang hatiku
Tak percaya kau telah tiada
Hidupku terasa hampa
Tanpa kehadiranmu disisiku
Semua begitu cepat berlalu
Bagaikan mimpi ditengah malam
Kukenang engkau selalu
Wahai sahabatku

ROTASI dan DILATASI (TRANSFORMASI GEOMETRI)

Kata transformasi, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perubahan, rupa. perubahan yang dapat terjadi pada bentuk, sifat, ...