Rabu, 12 November 2014

Inspiratif Story "Semangkuk Bakso"

SEMANGKUK BAKSO

Biasanya dihari ulang tahun putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si putri , meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanankesukaannya tersedia disana. Putri kesal, marah dan jengkel.

“huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. ”Ini semua  pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, putrid pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba putrid sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap diatas semangkuk bakso.

“mau beli bakso, neng? Duduk saja didalam,” sapa situkang baskso.

“mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.

“bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mie bakso yang super enak.”

Putri pun segara duduk didalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, ”lho, kenapa menangis, neng?” Tanya si abang tukang bakso.

“saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya…hari ini saya ulang tahun. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang member saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi member makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”

“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lho, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede gini, apa neng pernah terharu seperti ini? Jangan ngeremehin orantua sendiri neng, ntar nyesel lho.”

Putri seketika tersadar, “kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, putrid bergegas pergi. Setibanya dirumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega, “putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu kemana. Putri selamat ulang tahun ya.
“ibu, maafkan putri, bu,” putri pun menangis dan menyesal dipelukan ibunya. Dan yang membuat putri semakin menyesal, ternyata didalam rumah hadir pula sahabat-sahabat  dan paman serta bibinya. Ternyata ibu putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.

****************************

Saat kita mendapatkan pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oelh orang tua dan saudara tidak tampak dimata kita. Seolah menjadi kewajiban orang tua untuk selalu berada diposisi siap membantu, kapan pun.

Bahkan  jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis atau menjust, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendiri atau dilanda persaan sedih, marah dan kecewa yang hanya merugikan diri kita sendiri.


Maka untuk itu, “kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orang tua, saudara, teman, sahabat dan dengan masyarakat lainnya.”

ROTASI dan DILATASI (TRANSFORMASI GEOMETRI)

Kata transformasi, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perubahan, rupa. perubahan yang dapat terjadi pada bentuk, sifat, ...