Banyaknya masalah pendidikan matematika di
Indonesia merupakan salah satu alasan untuk mereformasikan pendidikan
matematika di sekolah. Masalah umum dalam pendidikan matematika antara lain :
rendahnya daya saing di ajang internasional, rendahnya rata-rata nilai UN
(Ujian Nasional) bila dibandingkan dengan pelajaran lain, rendahnya minat
belajar matematika disebabkan asumsi anak terhadap pelajaran matematika terasa
sulit, karena dalam pembelajaran matematika sering terlihat siswa kurang aktif
dalam mengikuti pembelajaran, keberanian siswa untuk bertanya kepada guru
sangat rendah, apabila ditanya oleh guru tidak ada yang mau menjawab, jika
ditunjuk.
Faktor lain yang berpengaruh adalah cara
mengajar guru yang tidak
tepat. Pembelajaran yang biasa diterapkan selama ini menggunakan metode ekspositori, di
mana pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif, dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat kurangnya
minat belajar. Minat belajar akan tumbuh dan terpelihara apabila kegiatan
belajar mengajar dilaksanakan secara
bervariasi, baik melalui variasi model maupun media alat peraga.
Proses belajar di sini dimaknai sebagai suatu
kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku, sedang perubahan
tingkah laku tersebut merupakan hasil belajar. Keberhasilan proses belajar
salah satunya dapat dilihat pada hasil maupun prestasi yang baik. Karena dalam
pembelajaran matematika prestasi merupakan salah satu tolak ukur proses belajar
mengajar, sampai saat ini kondisi pengajaran matematika memang belum seperti
yang diharapkan, kritik dan sorotan masih dikemukakan antara lain adanya
kemerosotan mutu lulusan yang ditandai dengan rendahnya hasil dan prestasi
belajar matematika.